Bersama Melki-Jhoni NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera dan Berkelanjutan


KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menyiapkan pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi seluruh ASN Pemerintah Provinsi NTT pada akhir tahun 2026. Pemberian TPP tersebut masih akan melalui penghitungan dan penyesuaian kemampuan keuangan daerah.
Hal itu disampaikan Melki saat memimpin Apel Bersama ASN Lingkup Pemerintah Provinsi NTT di halaman Kantor Gubernur NTT, Kupang, Senin (31/8/2026).
“Saya berencana nanti setelah kita menghitung dengan baik, di akhir-akhir tahun nanti ini TPP buat semua ASN yang akan kita berikan di akhir tahun,” kata Melki dalam arahannya.
Menurut Melki, TPP tersebut merupakan bentuk penghargaan kepada ASN yang telah menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Namun, ia mengingatkan ASN yang kinerjanya belum optimal agar segera melakukan perbaikan.
“Persiapan untuk semua yang sudah bekerja baik. Yang belum bekerja baik, saya berharap juga segera menyesuaikan diri,” ujarnya.
Melki meminta seluruh ASN Pemprov NTT terus meningkatkan kinerja hingga akhir tahun. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan sisa waktu September hingga Desember 2026 untuk mempercepat pelaksanaan berbagai program pembangunan yang telah direncanakan.
Selain menyampaikan rencana pemberian TPP, Melki dalam apel tersebut juga menyoroti solidaritas ASN terhadap masyarakat Flores yang terdampak gempa bumi.
Ia mengungkapkan total donasi untuk korban gempa Flores telah mencapai sekitar Rp1,3 miliar. Hampir separuh dari jumlah tersebut berasal dari ASN Pemprov NTT.
“Kalau saya hitung-hitung, hampir setengah dari Rp1,3 miliar itu sumbangannya dari ASN Pemprov NTT,” kata Melki.
Ia menyebut kepala dinas, kepala badan, kepala biro, hingga dirinya dan Wakil Gubernur NTT turut memberikan sumbangan. Para pejabat tersebut, kata dia, masing-masing menyumbang sekitar Rp5 juta.

Melki meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) tetap menjalankan aktivitas pemerintahan seperti biasa, tetapi setiap kegiatan harus tetap dibarengi semangat solidaritas terhadap masyarakat terdampak gempa.
“Semua kegiatan OPD yang ada, apa saja tanpa kecuali, silakan dilaksanakan. Galang bantuan donasi di situ agar nanti ada yang bisa kita bawa terus-menerus untuk keluarga kita di Flores,” ujarnya.
Ia menegaskan pemulihan Flores tidak akan selesai hanya dalam masa tanggap darurat. Setelah fase tersebut berakhir, masyarakat masih menghadapi proses panjang untuk membangun kembali rumah, kantor, fasilitas kesehatan, sekolah, hingga tempat ibadah yang rusak akibat gempa.
Melki memperkirakan proses pemulihan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ia berkaca pada pengalaman Nusa Tenggara Barat yang masih melakukan pemulihan dari gempa besar 2018.
Meski demikian, Melki optimistis proses pemulihan di Flores dapat dipercepat melalui semangat gotong royong seluruh masyarakat dan pemerintah.
“Saya percaya dengan semangat gotong royong seluruh Pemprov NTT, kabupaten-kabupaten Flores yang terdampak, seluruh kabupaten dan kota NTT, masyarakat, serta dukungan seluruh pihak, kita bisa membuat pemulihan Flores lebih cepat,” katanya.
Melki juga meminta para kepala daerah di NTT tidak hanya mengirim bantuan melalui perantara, tetapi jika memungkinkan datang langsung ke wilayah terdampak.
“Kalau punya kesempatan saya berharap kita juga bisa ke Flores, melihat langsung, pergi bertemu dengan masyarakat yang terdampak,” ujarnya.
Menurut Melki, kehadiran pemimpin di tengah masyarakat korban bencana memiliki arti penting. Ia mengutip pesan masyarakat Manggarai Timur yang ditemuinya setelah gempa bahwa selain bantuan, masyarakat membutuhkan kehadiran pemimpin untuk melihat kondisi mereka secara langsung.
“Yang kami butuhkan kehadiran pemimpin, kehadiran orang yang ingin melihat kita,” kata Melki mengutip pernyataan warga.
Ia juga mengapresiasi solidaritas dari berbagai daerah, termasuk NTB dan Bali. Menurutnya, NTB menjadi provinsi pertama yang mengirim bantuan ke wilayah terdampak Flores, disusul Bali.
Melki menyebut solidaritas tersebut sebagai bentuk nyata semangat kerja sama kawasan Bali, NTB dan NTT yang dahulu dikenal sebagai kawasan Sunda Kecil.
Dalam apel yang sama, Melki memperkenalkan Sekda NTT definitif Fransiskus Sales Sodo. Ia menyebut penetapan Fransiskus sebagai Sekda NTT menjadi salah satu “kado” dari Presiden Prabowo Subianto saat kepala negara berkunjung ke Nagekeo.
Fransiskus sebelumnya menjabat sebagai pejabat di Kabupaten Manggarai Barat dan kemudian dipercaya menduduki jabatan tertinggi birokrasi di lingkungan Pemprov NTT.
Melki menyebut Fransiskus merupakan lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan menilai pengalaman di Manggarai Barat menjadi modal penting untuk membantu mempercepat pembangunan NTT.
“Saya berharap membantu kita semua untuk bisa mempercepat, mengakselerasi pembangunan di NTT,” ujarnya.
Melki menutup arahannya dengan meminta seluruh jajaran Pemprov NTT tetap bekerja maksimal hingga akhir 2026. Menurut dia, percepatan pembangunan daerah, peningkatan kinerja ASN, dan pemulihan Flores harus berjalan beriringan.(*)