Bersama Melki-Jhoni NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera dan Berkelanjutan


NTT – Posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama perikanan tuna dunia membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi biru di kawasan timur Indonesia. Dengan potensi sumber daya laut yang melimpah, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu daerah yang terus didorong untuk menarik investasi sektor kelautan dan perikanan. Pada periode 2018–2024, realisasi investasi di NTT tercatat mencapai 2,34 miliar dolar AS atau sekitar Rp38,1 triliun, dengan sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu bidang unggulan yang ditawarkan kepada investor.
Berdasarkan catatan Food and Agriculture Organization (FAO) dalam The State of World Fisheries and Aquaculture 2026, tuna merupakan salah satu komoditas perikanan dengan nilai ekonomi terbesar di dunia. Nilai pasar tuna global diperkirakan mencapai sekitar 40 miliar dolar AS per tahun atau sekitar Rp705 triliun, dengan produksi spesies tuna komersial pada 2024 mencapai sekitar 5,9 juta ton.
Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok tuna dunia. FAO mencatat Indonesia berada sebagai produsen perikanan tangkap laut terbesar kedua dunia pada 2024, dengan kontribusi sekitar 9,1 persen terhadap produksi global. Untuk kelompok tuna, cakalang, dan tongkol (TCT), produksi Indonesia mencapai sekitar 1,44 juta ton pada 2024.
Besarnya potensi tersebut turut memperkuat peluang pengembangan industri perikanan di NTT. Provinsi kepulauan ini memiliki wilayah laut yang luas, jalur migrasi ikan tuna, serta basis masyarakat pesisir yang kuat. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan tuna termasuk dalam komoditas perikanan tangkap utama NTT dengan produksi mencapai sekitar 1.515 ton pada 2024.

Ekonomi Biru dan Investasi Perikanan NTT
Pengembangan sektor perikanan tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan jumlah tangkapan, tetapi diarahkan menuju konsep ekonomi biru (blue economy) yang menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan sumber daya laut.
Pemerintah Provinsi NTT menawarkan berbagai peluang investasi berbasis kelautan, mulai dari perikanan tangkap, pengolahan hasil laut, hingga pengembangan industri hilir. Dalam forum “Connecting East Nusa Tenggara Province with China” di KBRI Beijing pada (15/11/2025) lalu, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyampaikan bahwa pemerintah daerah membuka peluang kerja sama investasi internasional yang berfokus pada hilirisasi, industri padat karya, dan praktik ramah lingkungan.
“Pemerintah Provinsi NTT menargetkan investasi yang difokuskan pada hilirisasi, industri padat karya, dan praktik ramah lingkungan. Kami siap bermitra dengan investor internasional untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Melki.
Ia menjelaskan, total realisasi investasi NTT periode 2018–2024 mencapai 2,34 miliar dolar AS, terdiri atas investasi asing sebesar 704,8 juta dolar AS dan investasi dalam negeri sebesar 1,63 miliar dolar AS.
Lima sektor utama investasi tersebut meliputi:
Selain tuna, NTT juga memiliki komoditas unggulan lain seperti rumput laut. Produksi rumput laut NTT disebut mencapai sekitar 1,3 juta ton per tahun, yang berasal dari beberapa wilayah seperti Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, dan Sikka.
Menurut Gubernur Melki, pengembangan rumput laut dan sektor kelautan lainnya menjadi bagian dari strategi hilirisasi agar nilai ekonomi tidak berhenti pada produksi bahan mentah.
“Penelitian beberapa kampus dan perusahaan menyebut rumput laut NTT termasuk yang terbaik di dunia dan dapat menjadi pemasok kebutuhan berbagai negara,” ujarnya.
NTT juga memiliki potensi ekonomi biru melalui penyimpanan karbon (carbon storing) yang diperkirakan mencapai 2,15 juta ton karbon, dengan potensi nilai ekonomi sekitar 100–500 juta dolar AS berdasarkan kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Secara nasional, tuna bukan hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat pesisir. Nilai ekspor tuna, tongkol, dan cakalang Indonesia mencapai sekitar 1,03 miliar dolar AS pada 2024.
Namun, peningkatan nilai ekonomi tuna harus berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya ikan. Pemerintah melalui kebijakan Penangkapan Ikan Terukur berbasis kuota mendorong pengelolaan perikanan agar stok ikan tetap terjaga.
FAO mencatat sekitar 91,3 persen stok tuna yang dinilai pada 2023 berada dalam kondisi biologis berkelanjutan, menunjukkan bahwa pengelolaan berbasis sains menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri tuna global.
Industri tuna memiliki efek ekonomi yang luas, tidak hanya bagi nelayan tetapi juga sektor pendukung seperti bahan bakar, es, logistik, pelabuhan, pengolahan ikan, hingga perdagangan lokal.
Kajian mengenai perikanan tuna tropis Indonesia memperkirakan aktivitas produksi memiliki production multiplier sekitar 1,3 kali, sementara dampak ekonomi keseluruhan dapat mencapai sekitar 3,2 kali nilai produksi awal ketika memperhitungkan konsumsi rumah tangga.
Dengan kombinasi potensi laut, investasi, dan pengelolaan berkelanjutan, sektor tuna dan kelautan NTT berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi wilayah timur Indonesia.(SUMBER : https://www.victorynews.id)