Bersama Melki-Jhoni NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera dan Berkelanjutan


Di tengah Laut Flores, Palue adalah pulau yang sejak lama akrab dengan jarak, keterbatasan, dan ancaman alam. Tiga puluh dua tahun setelah Herman Musakabe datang menggunakan kapal motor, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena kembali menjejak pulau itu—kali ini ketika masyarakat sedang berjuang bangkit dari gempa.
Di tengah Laut Flores, Palue berdiri sebagai sebuah pulau kecil yang sejak lama akrab dengan jarak dan ketidakpastian.
Pulau vulkanik di utara Flores ini adalah rumah bagi Gunung Rokatenda, gunung api yang masih aktif. Letaknya juga berada di kawasan yang berdekatan dengan jalur aktivitas tektonik Laut Flores, membuat masyarakatnya hidup berdampingan dengan potensi bencana.
Pada 12 Desember 1992, ketika gempa dan tsunami besar mengguncang Flores, Palue turut merasakan hebatnya guncangan.
Dua tahun kemudian, seorang gubernur Nusa Tenggara Timur datang ke pulau itu setelah mendengar bahwa Palue merupakan salah satu daerah yang paling terpencil dan jarang dikunjungi.
Gubernur itu adalah Herman Musakabe.
Tiga puluh dua tahun kemudian, sejarah seperti mengulang satu bagian kecil dari ceritanya.
Pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores. Palue, yang berada tidak jauh dari episentrum, kembali menghadapi ujian alam.
Ada sesuatu yang berbeda di Palue pada Selasa, 8 September 2026.
Bukan hanya karena sebuah helikopter BNPB mendarat membawa Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena. Bukan pula semata karena rombongan pemerintah datang membawa bantuan setelah gempa bumi mengguncang Flores.
Ada sebuah perasaan yang lebih dalam: setelah 32 tahun, seorang gubernur NTT kembali menjejakkan kaki di pulau ini.
Camat Palue, Rudolfus Riba, menyebut Melki sebagai gubernur NTT kedua yang datang langsung ke Palue setelah Herman Musakabe, yang berkunjung pada 1994.
Bagi orang luar, angka 32 tahun mungkin hanya hitungan waktu.
Bagi masyarakat Palue, ia adalah jarak yang panjang.

Dulu, Palue Disebut Daerah Paling Terpencil
Kenangan tentang kunjungan pertama itu kembali muncul setelah Melki tiba di Palue.
Herman Musakabe, yang saat itu menjabat Gubernur NTT, masih mengingat bagaimana perjalanan menuju pulau tersebut bukanlah perjalanan singkat.
Pada 1994, ia bertanya kepada Bupati Sikka kala itu, Alex Idong, tentang daerah yang paling terpencil dan jarang didatangi.
Jawabannya sederhana: Palue.
Herman kemudian memutuskan untuk datang.
Rombongan Pemerintah Provinsi NTT bersama Ketua DPRD NTT Yan Yos Botha, Bupati Alex Idong dan sejumlah pejabat bertolak dari Maumere menggunakan kapal motor biasa.
Empat jam perjalanan ditempuh di tengah laut.
Untuk mengisi waktu, rombongan ibu-ibu bermain kartu gaple sambil bergurau. Herman sendiri memilih menikmati pemandangan laut, menyaksikan burung-burung menyambar ikan di tengah perjalanan.
Begitu tiba, warga menyambut dengan antusias.
Maklum, pejabat pemerintah tingkat provinsi maupun pusat bukanlah tamu yang sering mereka lihat.
Di pulau itu, Herman berdialog dengan masyarakat dan membawa sejumlah bantuan sosial. Saat sesi tanya jawab, seorang warga mengajukan permintaan yang sederhana sekaligus menunjukkan betapa jauhnya Palue dari pusat-pusat pelayanan.
“Pak Gub, kami minta dibuat lapangan terbang di Palue.”
Permintaan itu menjadi bagian dari ingatan Herman tentang Palue.
Ia juga mengingat masyarakat yang, meski hidup dalam keterbatasan, memiliki semangat gotong royong yang kuat.
“Mungkin mereka miskin materi, tapi kaya motivasi, budaya, persaudaraan dan kaya arti,” tulis Herman dalam kenangannya.
Pulau yang Belajar Bertahan
Palue bukan sekadar pulau kecil di tengah laut.
Di dekatnya berdiri Gunung Rokatenda, gunung api yang masih aktif. Air bersih pun sejak dahulu menjadi persoalan serius.
Herman masih mengingat bagaimana air minum diperoleh dengan menyuling air panas alam bumi yang tidak berbau belerang.
Ketika rombongan bermalam satu malam di Palue, penggunaan air bersih bahkan harus dibatasi. Setiap orang menggunakan air dengan takaran gayung.
Tiga puluh dua tahun berlalu.
Tetapi persoalan air bersih rupanya masih terdengar.
Saat Gubernur Melki datang pada 8 September 2026, Camat Rudolfus Riba kembali menyampaikan dua kebutuhan mendesak masyarakat: akses jalan dan air bersih.
Kondisi geografis pulau dan keterbatasan infrastruktur membuat mobilitas warga dan distribusi kebutuhan dasar tidak mudah.
“Harapan kami keluhan masyarakat, terutama soal akses jalan dan air bersih, bisa mendapat perhatian dari pemerintah. Mudah-mudahan setelah kunjungan ini ada tindak lanjut yang nyata,” kata Rudolfus.
Kalimat itu terasa lebih dari sekadar daftar persoalan.
Ia seperti mengingatkan bahwa di balik setiap laporan tentang bencana, ada kebutuhan dasar yang telah lama menunggu jawaban.

Melki Datang Saat Palue Sedang Terluka
Kunjungan Melki berlangsung dalam suasana berbeda dari kedatangan Herman tiga dekade lalu.
Jika dahulu Palue menyambut gubernur dengan rasa ingin diperhatikan, kali ini masyarakat menyambut gubernur dalam kondisi pascagempa.
Melki datang bersama Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago dan Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT Benyamin Nahak.
Kehadirannya bukan sekadar untuk melihat dari jauh.
Di tengah kondisi kakinya yang sedang sakit hingga berjalan setengah pincang, Melki tetap turun menemui masyarakat.
Ia berdialog dengan warga.
Mendengarkan.
Melihat sendiri kondisi di lapangan.
Kemudian menyerahkan santunan kepada 34 warga yang mengalami luka akibat gempa. Masing-masing menerima Rp5 juta dari Kementerian Sosial.
Namun Melki tidak ingin bantuan berhenti pada angka.
Ia menekankan sesuatu yang sering kali menentukan nasib korban bencana: data.
“Data harus sama, akurat, dan terintegrasi. Agar setiap korban memperoleh hak dan perhatian yang semestinya,” tegasnya.
Sebab dalam bencana, warga yang tidak tercatat bisa berarti warga yang tidak terlayani.

Dari Bantuan, Melki Naik Motor Menyusuri Palue
Setelah berdialog dan menyerahkan bantuan, kunjungan belum selesai.
Melki kemudian naik kendaraan roda dua bersama rombongan menuju tambatan perahu masyarakat.
Pemandangan ini mungkin sederhana.
Tetapi justru di sanalah denyut kehidupan Palue terlihat.
Bagi masyarakat pulau, laut bukan sekadar pemandangan.
Laut adalah jalan.
Laut adalah penghubung dengan Maumere.
Laut adalah jalur datangnya bantuan, bahan kebutuhan, sekaligus jalan bagi warga untuk menjalankan aktivitas ekonomi.
Karena itu, tambatan perahu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Palue.
Melki melihat langsung fasilitas tersebut dan kondisi yang dihadapi warga.
Ia datang bukan hanya untuk melihat apa yang rusak akibat gempa, tetapi juga untuk memahami bagaimana masyarakat bertahan hidup setelah bencana.
Ketika Keluhan Palue Dibawa ke Meja Presiden
Ada bagian lain dari cerita ini yang terjadi bahkan sebelum Melki tiba di Palue.
Sehari sebelumnya, Senin, 7 September 2026, dalam rapat virtual bersama Presiden Prabowo Subianto, Melki menyampaikan kebutuhan penambahan armada laut untuk melayani akses menuju Palue.
Persoalannya jelas.
Bagaimana bantuan bisa bergerak cepat menuju sebuah pulau ketika akses laut terbatas?
Presiden kemudian mengarahkan agar potensi armada laut yang tersedia dioptimalkan melalui koordinasi dengan TNI Angkatan Laut.
Kementerian Perhubungan juga menyiapkan kapal feri ASDP untuk mendukung pelayanan penyeberangan dan distribusi bantuan menuju Palue.
Bagi Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, tambahan armada itu bukan sekadar soal transportasi.
Ia adalah tentang membuka kembali urat nadi kehidupan.
“Dengan penambahan armada ferry ini akan memudahkan mobilitas bantuan ke wilayah Palue dan menghidupkan aktivitas perekonomian masyarakat setempat,” ujarnya.
Dengan begitu, sehari sebelum gubernur datang, salah satu persoalan Palue sudah dibawa ke tingkat tertinggi pengambilan keputusan.

Telepon dari Palue, 32 Tahun Kemudian
Namun mungkin bagian paling menggetarkan dari kisah ini justru terjadi setelah kunjungan selesai.
Sore hari setelah berada di Palue, Melki menghubungi Herman Musakabe.
Bukan sekadar untuk berbicara.
Melki kemudian memberikan teleponnya kepada Camat Rudolfus Riba.
Di ujung telepon, seorang camat dari Pulau Palue berbicara dengan seorang mantan gubernur yang pernah datang ke pulau itu 32 tahun sebelumnya.
Waktu seolah berputar kembali.
Dulu Herman datang ke Palue setelah mendengar bahwa pulau itu adalah daerah yang paling terpencil dan jarang dikunjungi.
Kini, tiga dekade lebih kemudian, Rudolfus menyampaikan kabar tentang Palue kepada orang yang pernah datang dan melihat sendiri kehidupan masyarakatnya.
Ada sesuatu yang manusiawi dalam percakapan itu.
Seolah sebuah jembatan yang dibangun pada 1994 kembali disambungkan pada 2026.
Herman mengaku senang bisa kembali mendengar suara warga Palue melalui camatnya, meski kali ini hanya melalui sambungan telepon.
“Palue adalah Manusia-Manusia Petarung”
Di tengah luka akibat gempa, Melki menyampaikan pesan kepada masyarakat Palue:
“Palue adalah manusia-manusia petarung. Tetap kuat, jangan mudah menyerah.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi sejarah Palue membuatnya memiliki arti yang berbeda.
Pulau ini telah lama hidup dengan keterbatasan. Jarak, laut, gunung api, sulitnya air bersih dan infrastruktur yang belum memadai bukanlah cerita baru bagi masyarakatnya.
Gempa hanya menambah satu lagi ujian dalam perjalanan panjang mereka.
Karena itu, harapan masyarakat kini bukan semata-mata bantuan untuk hari ini.
Mereka berharap jalan diperbaiki. Air bersih tersedia. Transportasi semakin terbuka. Tambatan perahu dan fasilitas publik diperkuat. Dan perhatian pemerintah tidak hilang ketika masa tanggap darurat berakhir.
Camat Rudolfus berharap kunjungan gubernur menjadi awal dari langkah nyata.
Harapan yang sebenarnya sangat sederhana:
agar Palue tidak hanya didatangi ketika bencana datang.

Dari 1994 ke 2026
Pada 1994, Herman Musakabe datang ke Palue menggunakan kapal motor dan menempuh perjalanan sekitar empat jam.
Pada 2026, Melki Laka Lena datang menggunakan helikopter BNPB.
Teknologinya berubah. Zamannya berubah. Pemerintahnya berganti.
Tetapi satu hal tetap sama:
masyarakat Palue ingin dilihat, didengar, dan diperhatikan.
Kini, setelah 32 tahun, cerita itu mendapatkan babak baru.
Bukan lagi sekadar tentang seorang gubernur yang datang ke pulau terpencil.
Melainkan tentang sebuah pulau yang sedang terluka dan berharap kunjungan kali ini menjadi awal dari sesuatu yang lebih panjang: pemulihan, pembangunan, dan kehidupan yang lebih baik.
Dari laut yang dahulu dilalui empat jam oleh Herman, hingga helikopter yang membawa Melki pada hari ini, Palue kembali mengirimkan pesan yang sama kepada pemerintah:
jarak boleh jauh, tetapi perhatian jangan pernah ikut menjauh.
Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari sebuah kunjungan.
Bukan tentang seberapa cepat seorang pemimpin datang.
Tetapi tentang apa yang dibawanya ketika datang—dan apa yang ia tinggalkan setelah pulang. (go)